Rabu, 22 Juni 2011

HANS JACOBUS WOSPAKRIK: FISIKAWAN CEMERLANG INDONESIA YANG TERLUPAKAN (Part 2)

Hanya dua bulan sejak kepulangannya ke Indonesia pada 1982, beliau sudah mencatatkan namanya sebagai penulis tunggal dalam sebuah jurnal fisika internasional: Physical Review D26 dengan judul Classical Equation of Motion of a Spinning Nonabelian Test Body in General Relativity. Empat tahun kemudian, beliau kembali merilis hasil karyanya dalam jurnal fisika internasional lain yaitu Modern Physics Letters A dengan judul Dispersive Derivation of the Triangle Anomaly. Hal yang menarik (dalam konteks Indonesia) adalah bahwa Hans berhasil menembus jurnal fisika paling frontier dalam bidang partikel elementer tanpa gelar Ph.D. Dan tidak berhenti sampai di sini saja, pada tahun-tahun berikutnya Hans masih terus menerbitkan hasil peneltiannya dalam berbagai jurnal internasional lainnya.
Perlu diketahui bahwa setiap peneliti diharuskan membayar biaya publikasi sebesar 600 dollar AS untuk setiap publikasi. Hans J. Wospakrik adalah seorang dosen yang hanya hidup dari gaji pegawai negeri seorang dosen ITB, tanpa penghasilan tambahan. Maka dipastikan beliau hanya menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk menabung biaya publikasi tersebut. Seorang koleganya di Departemen Fisika ITB sering mengatakan bahwa Hans secara de facto adalah seorang Ph.D. Dan akhirnya pada 1999, Hans mendapatkan kesempatan untuk memperoleh Ph.D nya setelah mendapat beasiswa di jurusan Matematika di Universitas Durham Inggris. Penelitiannya kali ini mengkaji tentang model alternatif ketiga dari partikel elementer setelah model point particle (model partikel titik/tak berdimensi) dan model string particle (partikel dawai) yaitu model partikel berdimensi 3, yaitu berbentuk bola bernama model Skyrme atau Skyrmion.
Desertasi Hans dalam bidang ini diselesaikannya pada tahun 2002. Selama masa penelitiannya di Durham, beliau juga sempat menerbitkan dua hasil penelitiannya bersama pembimbingnya, Prof. Wojtek J. Zakrzewski di sebuah jurnal yang sangat diimpikannya: Journal of Mathematical Physics pada tahun 2001.
Dari segi kepribadian, Hens J. Wospakrik adalah seorang yang sangat bersahabat dan penolong. Kisah mengenai kepribadiannya yang luar biasa ini terungkap ketika tim editor mewawancarai beberapa mahasiswa yang pernah dibimbing olehnya. Ia bersedia menemani mahasiswanya (baik sarjana maupun pasca sarjana)berdiskusi mengenai tugas akhirnya sampai tengah malam. Hingga beliau harus pulang dengan berjalan kaki dari kampus ITB ke rumahnya yang berjarak sekitar 7 km karena tidak ada lagi angkutan umum. Ya, Hans biasa menggunakan angkutan umum sebagai kendaraan sehari-harinya ke kampus. Taksi bukanlah pilihan untuk gaji seorang pegawai negeri.
Pada masa-masa menjadi mahasiswa sarjana, Hans sangat mengidolakan Albert Einstein. Bahkan tugas akhirnya pun dikerjakan dalam upaya untuk memahami teori relativitas umum: teori yang telah menggelitiknya sejak Hans masih di bangku SMA. Pada tahun 2004 ketika sedang dalam sesi wawancara dengan pihak editor, beliau menunjukkan naskah buku Dari Atomos Hingga Quark. Dia mengatakan bahwa dengan diselesaikannya naskah itu, maka kekagumannya pada semua ilmuwan yang berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan akan merata.
Setahun kemudian datanglah kabar duka. Hans Jacobus Wospakrik meninggal dunia. Beliau meninggal pada usia 53 tahun setelah kurang lebih tiga bulan menderita kanker darah. Penyakit ini menurut istrinya pertama kali diketahui pada bulan September tahun 2004. Pada suatu malam di akhir Desember beliau pulang dari kampus dengan berjalan kaki dan tampak sudah sangat kelelahan. Keesokan harinya beliau dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau meninggal setelah dipindahkan ke RS Dharmais, Jakarta.
Buku “Dari Atomos Hingga Quark” dengan demikian diterbitkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi dan dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan. Khususnya bagi Indonesia, hal ini diharapkan menjadi bukti bahwa negeri ini memiliki seorang ilmuwan cemerlang yang sangat berdedikasi dan berprestasi di dunia internasional namun tidak dikenal bahkan oleh pemerintah RI sekalipun. Nasibnya yang hidup dalam garis kemiskinan membuat siapapun yang mengenalnya pasti menyayangkan hal ini. Akhirnya kita mendapati bahwa kita telah kehilangan seorang besar yang tidak pernah mendapatkan apresiasi yang pantas atas apa yang telah dicapainya bagi negeri ini dari negerinya sendiri.
Semoga sedikit kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita. Semoga terus dilahirkan ilmuwan-ilmuwan Indonesia dengan dedikasi yang besar, dan semoga di masa depan mereka mendapatkan apresiasi yang pantas atas apa yang telah mereka perbuat bagi bangsa ini.
Saya sendiri yakin, ilmu pengetahuan di negeri ini bisa maju. Kita dapat melihat fakta bahwa anak-anak muda kita hampir setiap tahun selalu mendapatkan prestasi bergengsi di level internasional. Artinya bangsa ini memiliki semua yang yang diperlukan untuk bisa maju. Sumber daya manusia yang berkualitas di usia muda adalah bentuk energi kemajuan yang paling generik. Bentuk ini tidak akan dapat berfungsi maksimal jika tidak ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih konkret. Tugas kita bersama-sama untuk dapat mengelola potensi besar bangsa ini agar SDM berkualitas ini bisa mewujudkan potensi maksimumnya untuk kemajuan bangsa.


Kisah selengkapnya mengenai latar belakang, riwayat singkat Hans Jacobus Wospakrik dan berbagai judul karya ilmiah yang diterbitkan di berbagai jurnal internasional dapat dibaca di bagian Pengantar Penerbit dan Pengantar Editor buku “Dari Atomos Hingga Quark”.

HANS JACOBUS WOSPAKRIK: FISIKAWAN CEMERLANG INDONESIA YANG TERLUPAKAN (Part 1)

Tulisan ini saya buat semata-mata karena kekaguman saya terhadap beliau karena personality,  prestasi akademik dan dedikasinya yang luar biasa untuk ilmu pengetahuan.
Meninggalnya beliau pada 11 Januari 2005 merupakan kehilangan yang besar bagi Indonesia.

Beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng melihat koleksi buku di rak buku saya. Menyisir rak buku dari kiri ke kanan, mata saya terhenti pada sebuah buku lama. Buku sains populer yang saya beli (bersama teman saya) di toko buku di sebuah mall di bandung waktu kami masih SMA. Saya pertama kali melihat buku ini di sebuah toko buku di mall di Depok, ketika saya sedang berlibur di tempat seorang kerabat. Sebenarnya saya ingin membelinya saat itu juga, tapi saya sedang tidak punya uang (dulu harganya cukup mahal untuk kantong saya yang masih SMA).
Akhirnya ketika kembali ke Bandung dan uang saya sudah terkumpul, saya dan teman saya yang kebetulan sedang berjalan-jalan di mall mampir ke toko buku dan melihat buku itu lagi! Saya masih ingat sekali betapa kami dengan sangat antusias membeli buku ini. Setelah selesai bayar di kasir, kami pun langsung mencari tempat duduk, membuka segelnya dan langsung membaca dengan cepat bagian-bagian awal buku tersebut. Buku itu berjudul “Dari Atomos Hingga Quark”, karangan Hans Jacobus Wospakrik. Buku setebal 324 halaman ini dibalut cover bernuansa hijau dengan corak berbentuk menyerupai ikatan-ikatan kimia. Selama berhari-hari buku itu menjadi santapan utama saya di waktu senggang.
Buku ini sangat menarik. Menceritakan perjalanan panjang manusia dalam mengungkap hakekat zat, yang diawaki oleh sejumlah filsuf dan ilmuwan berdedikasi dari seluruh dunia sejak zaman sebelum masehi. Saya memang menyukai sains, karena itu saya memiliki beberapa buku sains populer lain di rak buku saya. Semuanya karangan orang asing (terjemahan).  Jadi saya berpikir bahwa buku ini juga, seperti buku sains populer saya yang lainnya, adalah terjemahan. Alasan lain saya berpikir demikian adalah bahwa sejauh saya tahu, memang jarang buku sains populer seperti ini ditulis oleh penulis dalam negeri, apalagi tema buku ini memang bukan jenis sains yang umum dikaji di Indonesia (fisika partikel elementer) karena penelitiannya memerlukan peralatan yang luar biasa mahal seperti pemercepat partikel (accelerator particle).
Namun demikian entah mengapa, terbersit keinginan saya untuk membaca bagian Pengantar Penerbit dan Pengantar Editor (mungkin karena begitu tertariknya saya pada buku ini), bagian yang umumnya dilewatkan oleh sebagian besar pembaca buku termasuk saya. Dan ternyata keputusan saya untuk membaca bagian tersebut benar-benar mengubah pandangan saya terhadap buku ini. Buku ini ternyata dibuat oleh seorang Indonesia! Nama Hans J. Wospakrik memang tidak bernuansa Indonesia sehingga saya tidak berpikir sedikitpun bahwa beliau adalah orang Indonesia. Saya benar-benar malu.
Dari kedua bagian awal buku tersebut akhirnya saya mengetahui bahwa Hans J. Wospakrik adalah seorang fisikawan teoritis ITB yang dilahirkan di Serui, Papua pada 10 September 1951, dan beliau memang meneliti tentang fisika partikel.  Beliau adalah seorang dosen yang sederhana, yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan akademik dan ilmu pengetahuan. Dengan bimbingan seorang astronom dan ahli matematika dari Departemen Astronomi, Dr. Jorga Ibrahim, beliau berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya tentang teori relativitas umum di sekitar bintang bermuatan listrik. Lulus dari ITB sebagai satu-satunya wisudawan dengan predikat Cum Laude pada tahun 1976 membuatnya langsung diterima sebagai dosen di Departemen Fisika ITB.
Sebagai pengajar, beliau ternyata amat disukai oleh para mahasiswanya dan dikagumi oleh para koleganya sesama dosen. Seorang Hans ternyata memiki bakat mengajar yang luar biasa, menyampaikan materi yang kompleks dengan metode dan tata bahasa yang runtut. Tidak heran jika orang seringkali melihat kelas-kelas yang diisi oleh Hans hampir selalu dipenuhi mahasiswa yang duduk sampai ke lantai. Para kolega sesama dosen dan peneliti pun mengagumi kemampuan mengajarnya ketika menyaksikannya menyampaikan materi dalam berbagai kolokium.
Selain mengajar, beliau juga masi tetap melanjutkan aktivitasnya dalam penelitian. Pada tahun 1980 beliau diajak oleh Prof. Kistemakers, seorang ilmuwan asal Belanda untuk melanjutkan studi di Universitas Utrecht selama 2 tahun setelah melihat kecemerlangannya ketika berkunjung ke Bandung. Hans direkomendasikan untuk melakukan penelitian partikel elementer di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. Martinus J.G. Veltman dan Prof. Dr. Gerardus ‘t Hooft yang kelak pada tahun 1999 keduanya meraih penghargaan Nobel Fisika. Setelah setahun di Belanda, Hans mengikuti Prof . Veltman ke Michigan, Amerika Serikat untuk melanjutkan penelitian di sana. Sayangnya beasiswa studi Hans tidak dapat diperpanjang sehingga beliau kembali ke Indonesia tanpa membawa gelar Ph.D. Namun demikian, pengalaman bekerjasama dengan para ilmuwan berlevel Nobel memberikan Hans banyak pelajaran.

Sabtu, 21 Mei 2011

Pembangunan Berbasis Inovasi Teknologi (An Introduction)

Tulisan ini adalah bagian pendahuluan dari tugas akhir berupa makalah singkat dari mata kuliah Studium Generale.


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang besar. Ini artinya Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar untuk dapat menciptakan kemajuan yang signifikan dan memberikan kontribusi yang konkret terhadap pembangunan bangsa ini. Menurut hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai jumlah 237.641.326 jiwa. Jika kita anggap usia produktif adalah usia 20 tahun sampai 55 tahun, maka penduduk yang termasuk ke dalam kategori usia produktif adalah sejumlah 121.609.485 jiwa. Jumlah ini adalah 51% dari total jumlah penduduk Indonesia. Situasi ini diperkirakan akan bertahan hingga beberapa puluh tahun ke depan. Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi bangsa yang sedang meningkatkan kualitas ekonomi dan berusaha untuk dapat bersaing dalam derasnya dinamika globalisasi multidimensi. Potensi ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa hal sebaliknya justru sedang terjadi di negara-negara maju seperti negara-negara Eropa dan Jepang, dimana pada negara-negara tersebut saat ini dan beberapa puluh tahun ke depan penduduknya didominasi oleh usia tua yaitu di atas 60 tahun. Dengan demikian, sebenarnya kita memiliki kekuatan yang lebih besar untuk dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian dunia dan  menciptakan kemajuan di berbagai bidang jika kita dapat memaksimalkan potensi ini.
Inovasi merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu negara. Selain sebagai alat untuk terus meningkatkan kualitas hidup masyrakatnya, inovasi juga merupakan manifestasi dari suatu masyarakat yang belajar dan berkembang sehingga tingkat inovasi suatu negara dapat menjadi indikator level peradaban suatu bangsa. Di era globalisasi seperti sekarang ini, inovasi menjadi isu yang penting bagi bangsa jika ingin tetap terlibat dalam dinamika pergaulan internasional yang semakin rumit. Pergaulan internasional kini membentuk komunitas regional (Uni Eropa, ASEAN, Uni Emirat Arab), yang berakibat pada dinamika perekonomian regional. Artinya kita tidak lagi berada dalam ruang lingkup dalam negeri saja melainkan secara langsung terlibat dalam dinamika ekonomi regional yang semakin terbuka. 

I.                   POTENSI, KELEMAHAN, TANTANGAN, DAN PELUANG
Pembangunan bangsa yang berbasiskan inovasi teknologi tentu tidak lepas dari peran para intelektual di bidang ini. Mereka adalah para peneliti, dosen, dan mahasiswa yang mempelajari teknologi. Jumlah mahasiswa dan peneliti yang menekuni bidang inipun sebenarnya cukup banyak dan di antara mereka banyak pula yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan prestasi para mahasiswa Indonesia di ajang kompetisi teknologi bergengsi internasional. Berbagai universitas telah berhasil membukukan namanya di ajang kompetisi robotika internasional seperti Unikom, UGM, dan ITB. Dalam bidang otomotif pun ITS telah berhasil mendapatkan gelar internasionalnya. Para peneliti Indonesia pun banyak yang memegang jabatan penting di luar negeri. Hal-hal tersebut dapat membangkitkan optimisme kita untuk dapat lebih meningkatkan upaya pembangunan berbasiskan inovasi teknologi.
Namun saat ini masyarakat Indonesia terlalu disibukkan dengan berbagai pembahasan mengenai dinamika politik yang cenderung kontra-produktif. Dinamika inovasi dan teknologi yang merupakan bagian dari aspek penting dalam perkembangan kemajuan negeri seringkali ter-marginal-kan. Jika hal ini tersisihkan, perhatian masyarakat terhadap inovasi pun akan berkurang sehingga inovasi tidak lagi dianggap penting. Sedangkan inovasi merupakan hal yang berbasiskan permintaan (demand driven). Artinya, inovasi tidak akan berkembang jika tidak ada permintaan dari masyarakat. Hasil survey Biro Riset Ekonomi Bank Indonesia terhadap 29.469 industri besar dan sedang pada Desember 2010 menyebutkan bahwa 78% merupakan industri inovasi rendah, 20% merupakan inovasi sedang, dan hanya 2% yang merupakan industri inovasi tinggi. Inovasi merupakan demand driven sehingga jika permintaan dari masyarakat kurang maka inovasi juga tidak akan berkembang.
Menurut Global Competitiveness Index 2010-2011, Indonesia berada di peringkat 37 dalam business sophistication dan peringkat 36 dalam innovation. Namun berada di peringkat ke 91 dalam hal technological readiness. Ini artinya Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang kuat dalam pengembangan inovasi teknologi, namun memiliki tingkat pemanfaatan yang lemah terhadap teknologi. Indonesia juga memiliki level yang tinggi dalam hal market size. Dengan kondisi yang seperti ini, kita hanya akan menjadi pasar yang baik bagi negara penghasil teknologi inovasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inovasi adalah demand driven. Jumlah industri inovasi tinggi yang hanya sebesar 2% menunjukkan bahwa terdapat demand yang kecil akan teknologi. Demand yang kecil ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kerjasama yang terjalin antara pihak universitas dan dunia usaha. Selama ini hasil penelitian universitas hanya menjadi artifak laboratorium yang dinilai kurang memiliki nilai ekonomi. Namun tentu saja bukan karena mereka memang tidak punya nilai ekonomi, melainkan banyak pihak yang tidak melihat potensi ekonomi dibalik hasil penelitian universitas. Hal ini menjadi penyebab terhambatnya perkembangan inovasi teknologi di negeri ini.
Ini adalah sebuah tantangan bagi semua rakyat Indonesia untuk dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki bangsa ini dan mengkonversinya menjadi suatu gerakan pembangunan yang masiv berbasiskan teknologi agar kita dapat meningkatkan daya saing internasional sehingga kita tidak hanya dapat bertahan dari arus globalisasi, tapi juga dapat berkontribusi dan memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan dunia. Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki kesadaran dan minat yang tinggi akan teknologi. Indonesia juga memiliki banyak universitas yang mampu untuk mengembangkan teknologi lengkap dengan mahasiswa dan peneliti yang bisa diandalkan. Dalam hal ini kita memiliki masyarakat dan pemerintah sebagai demand, dan universitas serta peneliti sebagai supply. Dengan kata lain kita memiliki semua yang diperlukan untuk mengembangkan inovasi sebagai basis pembangunan Indonesia di masa depan. 

Kesejahteraan dari Potensi Laut Indonesia

Resume Kuliah Studium Generale
MEMBANGUN NEGARA MARITIM INDONESIA
Dr. Ir. H. Fadel Muhammad Al-Haddar
 (Menteri Kelautan dan Perikanan RI)


Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah laut yang mencapai 2/3 dari luas wilayah keseluruhannya. Jumlah ini membuat Indonesia memiliki luas laut terbesar kedua di dunia. Luas tersebut menunjukkan banyak dan beranekanya sumber daya alam dan sumber daya hayati yang dimiliki oleh laut Indonesia. Ini juga menunjukkan bahwa negara kita sangat kaya akan potensi dari hasil laut.
Dengan mengetahui bahwa kita memiliki kekayaan yang luar biasa dari laut, maka sekarang kita memikirkan bagaimana strategi pengelolaan kekayaan tersebut dalam rangka membangun bangsa ini menjadi negara bahari di dunia ini
Tiga pilar dalam pembangunan perikanan dan kelautan yang akan dilakukan ke depan yakni, national ocean policy (payung hukum dan arah kebijakan perikanan dan kelautan), road map ocean resource dan tata kelola yang baik untuk kelautan (ocean government). Dalam membangun negara ada 2 hal yang menjadi prinsip utama yaitu Ekonomi berbasis pengetahuan dan Persaingan yang berbasis inovasi. Ekonomi yang berbasis pengetahuan, jelas bahwa pengembangan ekonomi yang kita lakukan harus didasarkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdasarkan keadaan sosial dan data yang ada, mengambil keputusan dalam dunia ekonomi harus sesuai dari pertimbangan yang didasarkan pada informasi yang bisa dipertanggungjawabkan dan harus berjangka panjang atau visioner, sehingga diperoleh pembangunan dan peningkatan ekonomi yang pesat dan berkesinambungan.
Dalam melaksanakan program-program tersebut kita harus fokus. Kita harus menempatkan diri kita bagaimana sistem ekonomi agar fokus bicara bagaimana agar ekonomi itu ada kaitan dengan perikanan tangkap yang bermuara pada kesejahteraan rakyat. Bicara perikanan tangkap satu fungsi yang harus diutamakan adalah armada kapal, pelabuhan, SDM, dan jejaring pasar.  Jejaring Indonesia masih belum kuat dan jelas-jelas masih kalah bargaining dengan negara lain. Selama ini ada peraturan dari level menteri dan dirjen yang hasil dan penerapannya masih kaku.
Visi dari menteri kelautan bersama jajarannya adalah “Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar 2015”. Ini adalah mimpi besar yang harus kita dukung sebagai bagian dari bangsa ini. Visi ini dinilai sangat realistis jika melihat dari apa yang bangsa ini miliki dari segi sumber daya alamnya. Kita tentu harus optimis. Hal yang harus kita pikirkan adalah bagaimana merapikan diri dalam pelaksanaan konsep matang yang telah disusun oleh kementerian kelautan dan jajarannya. Dan ini harus ada dukungan dan kerjasama dari setiap elemen terkait.
                Sedangkan misinya kementerian kelautan adalah “Mensejahterahkan masyarakat perikanan dan kelautan” cukup singkat dan jelas, dimana kesejahteraan masyarakatlah yang menjadi fokus utama dari tiap program kerja atau proyek yang dilakukan pemerintah dari potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki.
Indonesia harus meningkatkan kinerja perikanan tangkap, ini penting sehingga nelayan betul-betul memiliki kelompok yang berbudaya entrepreneur dan punya visi masa depan.
Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah
1.    Membangun sistem manajemen perikanan tangkap yang berbasis pada kemudahan nelayan bekerja dan memotiviasi mereka untuk meningkatkan pendapatan (Referensi Model Taksi Minabahari Gorontalo)
2.    Membangun dan memperbaiki infrastruktur perikanan tangkap seperti pelabuhan, sistem pendingin, dan akses ke pasar agar produk perikanan tangkap memiliki keunggulan bersaing dengan produk kompetitor
3.    Peningkatan kapasitas SDM perikanan tangkap agar memiliki kapasitas dan daya saing yang lebih unggul atau setara dengan nelayan dari 5 negara penghasil ikan terbesar di dunia
4.    Membangun jejaring pasar untuk membuka dan meningkatkan penetrasi produk ikan di Indonesia ke pasar local, regional dan internasional.
Pertumbuhan hasil perikanan dan kelautan di masa lalu datar-datar saja, hal ini yang harus kita perjuangkan untuk meningkat lebih cepat lagi. Sehingga focus kementerian kelautan dan perikanan di tahun 2011 ini adalah pengembangan minapolitan dan pnpm mandiri atau mina pedesaan. Dimana daerah pantai itu masuk dalam kawasan pedesaan yang harus dikembangkan terus-menerus dengan memberikan bantuan dana dan pengontrolan yang terarah yang rutin. Adapun peran perguruann tinggi adalah menyediakan teknologi baru dalam pengelolaan hasil perikanan dan kelautan agar diperoleh penambahan pada nilai ekonomis ataupun untuk memudahkan dalam pelaksanaan tangkap ikan, dan lain-lain. Selain itu, dari perguruan tinggi diharapkan dihasil sumber daya manusia yang mau dan siap untuk mengembangkan potensi besar ini.

Sabtu, 30 April 2011

The Stonger Middle Class for The Stronger Indonesia

Belakangan ini saya sedang asyik membaca sebuah buku yang sangat menarik. Judulnya "Untuk Indonesia Yang Kuat" karangan seorang wanita bernama Ligwina Hananto. Beberapa orang mungkin sudah tidak asing dengan nama ini. Ya, dia adalah seorang perencana keuangan independen yang merupakan salah satu orang yang memulai cikal bakal QM Financial. Ligwina Hananto (atau lebih akrab disapa mbak Wina) menerima Bachelor of Commerce, double major Finance dan Marketing dari University of Technology Perth Western Australia. Lalu menerima Master of Business Administration, major Investment Management dari IPMI Business School Jakarta. Profesinya sebagai perencana keuangan independen membuatnya sering diminta menjadi narasumber dalam berbagai diskusi mengenai financial planning dan management baik di televisi maupun di radio. 

Baiklah kita mulai saja membahas isi buku ini. Seperti tertera pada judulnya, mbak Wina ingin berkontribusi dalam memajukan dan memperkuat perekonomian Indonesia. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Mbak Wina pertama-tama memperkenalkan kepada kita peranan golongan menengah (middle class) dalam suatu negara dalam menyokong stabilitas perekonomian. Menurutnya, golongan menengah adalah golongan yang berdaya. Mereka punya mata pencaharian dan mampu makan lengkap tiga kali sehari. Punya rumah (mengontrak, rumah orang tua, atau rumah sendiri). Golongan ini tidak selalu punya uang banyak, tapi mereka tidak melarat. Intinya mereka bisa hidup berkecukupan (mampu memenuhi kebutuhan primer dan sekunder), mandiri secara financial tapi tidak mampu hidup super mewah. Tidak ada definisi yang baku untuk golongan menengah ini. Kita bisa saja punya definisi sendiri, namun secara umum seperti yang telah digambarkan oleh mbak Wina di atas.

Golongan menengah inilah yang sebenarnya menjadi motor penggerak perekonomian negara. Golongan menengah ini yang lebih sering melakukan transaksi, pembelian. Golongan ini yang paling banyak bekerja di berbagai sektor. Dan jumlah dari golongan inilah yang paling banyak dan paling potensial untuk memberikan stabilitas ekonomi karen golongan ini seharusnya memiliki kondisi ekonomi yang stabil dan mandiri. Meskipun demikian kita sering mendapati banyaknya orang-orang yang menurut kita seharusnya masuk ke dalam golongan menengah, namun ternyata tidak aman secara finansial. Mereka memiliki gaya hidup yang cukup tinggi tapi ternyata tidak punya aset ataupun tujuan finansial. Mereka cenderung hanya menikmati apa yang mereka miliki saat ini, tapi tidak pernah berpikir bagaimana mempertahankan gaya hidup seperti ini di masa depan. Atau banyak juga yang seringkali sering kehabisan uang sementara gaji bulan depan belum keluar. Semua persoalan ini berasal dari ketidakmampuan mengatur keuangan dan tidak adanya tujuan finansial.

Golongan menengah di Indonesia berjumlah cukup besar. Jumlah ini bahkan hampir sejumlah penduduk negara kecil seperti Singapura atau Malaysia. Bayangkan jika semua orang dari golongan menengah ini mampu berdaya dan mandiri serta mampu menyebarkan kekuatan finansialnya ke sekitar. Betapa besarnya kekuatan yang bisa dibangun dari golongan ini. Oleh karena itu, golongan menengah harus kuat. Harus mandiri. Kalau kita kuat, kita bisa membantu sesama. Salah satu penyebab kemelaratan di negeri ini adalah terjadinya konsentrasi kesejahteraan. Ada golongan orang yang sangat kaya sementara itu ada juga golongan yang sangat miskin. Golongan menengah adalah perantaranya. Sudah seharusnya golongan menengah menjadi jembatan kesenjangan ini. Salah satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah ajakan-ajakan untuk membantu sesama. Ajakan untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan dan bukan hanya berkomentar, mengritik atau menyalahkan pemerintah.

Jadi bagaimana agar golongan menengah ini kuat? Kuncinya adalah Financial Planning. Niat merubah keadaan  negeri harus dimulai dari diri sendiri. Pertama-tama kita harus memperkuat stabilitas ekonomi keluarga. Kita harus sadar bahwa kebutuhan kita di masa depan akan sangat besar. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, rumah, dana pensiun dan lain-lain. Kebutuhan-kebutuhan ini merupakan tujuan finansial kita yang harus disusun dengan perencanaan yang matang, kalau tidak kita akan berhadapan dengan resiko anak kita tidak sekolah, tidak punya dana ketika sakit, atau resiko tidak pernah pensiun karena masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Perencanaan keuangan ini harus memperhitungkan inflasi, artinya kita harus memproyeksikan besarnya dana yang dibutuhkan di masa depan dalam bentuk future value (nilai masa depan) dengan memperhitungkan lonjakan nominal karena adanya inflasi. Dana yang dibutuhkan untuk masuk sekolah misalnya, di masa depan akan jauh lebih mahal daripada sekarang.

Namun yang paling membuat saya tercengang ketika membaca buku ini adalah besarnya dana pensiun. Jika kita ingin benar-benar pensiun (tidak bekerja selepas pensiun dan hanya menikmati hasil semasa bekerja), kita tentu harus menyiapkan sejumlah uang untuk itu. Tapi berapa jumlah yang memadai? Kita tentu ingin gaya hidup kita semasa pensiun nanti at least tidak lebih rendah daripada sekarang. Dengan memperhitungkan inflasi dan dengan asumsi bahwa masa pensiun adalah sekitar 55-80 tahun, maka kita akan melihat jumlah yang sangat mencengangkan yaitu mencapai orde milyaran! Dalam buku ini ada sebuah simulasi sederhana yang bisa kita pelajari. Pertanyaannya apakah kita bisa mencapai jumlah itu dengan gaji dari bekerja dan menabung? (Kondisi ini mengasumsikan kita di masa pensiun hidup mandiri tanpa sokongan dari kerabat atau anak-anak.)

Ini adalah satu lagi hal yang membuka mata saya, yaitu kenyataan bahwa menabung saja cukup untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Ini semua berkat adanya gangguan dari inflasi. Meskipun kita secara konsisten menabung dengan jumlah tertentu, kita tetap tidak akan mampu mencapai jumlah yang dibutuhkan dengan kondisi inflasi setelah beberapa puluh tahun. Kalaupun kita tetap bersikukuh ingin menabung saja, maka kita harus menabung dengan jumlah yang sangat besar dan konsisten. Karena itulah kita perlu melakukan investasi. Investasi bagi sebagian orang menakutkan karena ada resiko gagal. Resiko memang tidak bisa 100% dihindari, tapi kita bisa mengatur supaya resiko yang kita hadapi menjadi minimum. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan akan produk-produk investasi yang ditawarkan. Saya sendiri kurang memahami seluk beluk dunia investasi di pasar modal ataupun reksadana. Tapi saya ingin belajar untuk paling tidak tahu secara garis besar bagaimana dunia investasi bekerja. Intinya kita harus mengaktivasi uang kita dengan menginvestasikannya.

Saya selama ini memang bisa dibilang bodoh dan buta dalam hal pengetahuan di bidang keuangan. Saya juga tidak tahu faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam membuat perencanaan keuangan. Tapi buku ini benar-benar telah membuka mata saya. Mbak Wina secara tidak langsung telah memperlihatkan kepada saya dimensi-dimensi yang dalam hal Financial Planning yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya pun merekonstruksi pandangan saya tentang istilah "kaya". Karena uang yang banyak tanpa kemampuan pengelolaan yang baik dan akurat tidak akan menghasilkan manfaat bagi kita.

Hal yang saya suka dari buku ini adalah spirit mbak Wina dalam mengajak kita (para calon dan anggota golongan menengah) untuk memperkuat perekonomian keluarga agar dapat membantu sesama. Agar dapat secara konkret terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan, bukan hanya menggerutu dan mengeritik. Jadi di sini terasa bahwa semangat kita untuk memiliki kondisi ekonomi yang baik bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, tapi juga berkontribusi bagi negara. Dalam bukunya, mbak Wina sering menulis hal-hal seperti ini: "jika dana pendidikan anak kita sudah aman, membantu anak orang lain sekolah tentu akan lebih mudah lagi" atau "Ketika kita kuat, kita bisa memperkuat orang lain untuk waktu yang lebih panjang. Jangan merasa hebat jika anda kuat sendirian." Dan hal-hal lain semacam itu. Jadi secara keseluruhan, buku ini mengandung ajakan yang sangat bagus dan sangat membuka mata bagi kita yang mungkin baru akan memasuki golongan menengah. Membantu kita dalam menentukan orientasi finansial kita sehingga kita tidak hanya tahu cara menggunakan uang, tapi juga mengelolanya dalam skala keluarga. Buku ini juga menyadarkan kita akan pentingnya menentukan tujuan finansial sehingga kita memiliki fokus yang jelas.

Akhirnya saya berharap semoga semangat ini bisa menyebar ke semua orang, terutama dari golongan menengah. Golongan menengah yang kuat, untuk Indonesia yang kuat!

Minggu, 17 April 2011

Mengingat Kembali Fungsi Hutan

Resume Kuliah Studium Generale
MENJADIKAN HUTAN UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN PENDORONG EKONOMI BANGSA
Zulkifli Hasan, S.E, M.M
 (Menteri Kehutanan RI)

Hutan bukan hanya sekumpulan pepohonan yang menyediakan kayu, akan tetapi hutan mempunyai nilai yang tidak ternilai harganya, karena hutan sesungguhnya adalah sebuah ekosistem penyangga kehidupan. Apabila sumberdaya hutan dikelola dengan baik maka akan memberikan kebaikan bagi kehidupan masyarakat.  Namun apabila pengelolaannya tidak berdasarkan kepada prinsip kelestarian maka bencana bagi umat manusia tidak dapat dihindarkan bahkan bagi generasi yang akan datang.
Berbeda dengan pengelolaan sumberdaya alam yang lain, pengelolaan hutan memerlukan pendekatan  yang menyeluruh karena hutan mempunyai karakter yang tidak dimiliki oleh sumber daya yang lainnya. Karakter-karakter dimaksud meliputi;
1.          Aneka ragam sumber daya
Di dalam hutan tropika terdapat keanekaragaman kehidupan flora dan fauna, yang secara bersama-sama membentuk mata rantai kehidupan yang bermanfaat bagi manusia. Berbagai jenis flora dan fauna mempunyai kegunaan baik yang telah diketahui manfaatnya maupun yang belum diketahui. Dalam konteks ini maka upaya yang terintegrasi untuk menjaga keutuhan ekosistem hutan menjadi sangat penting terlebih Indonesia adalah negara megabiodiversity tropis yang sangat besar diantara negara tropis lainnya. Ekosistem yang terganggu akan menyebabkan timbulnya wabah penyakit, ledakan populasi dan akibat lain yang pada tingkat dan kondisi tertentu sulit untuk diprediksi akibatnya.
2.       Keragaman Peluang Pemanfataan
Pengetahuan kita tentang isi hutan dan kegunaannya belum sepenuhnya mampu diungkapkan. Hutan tropika yang dikenal sebagai mega biodiversity masih menyimpan peluang-peluang manfaat dan peluang-peluang usaha yang tidak terkira jumlahnya.  Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir kemampuan kita hanya terbatas dalam pemanfaatan kekayaan alam hutan  dan terfokus pada  kayu dan non kayu, padahal masih banyak potensi kekayaan lain yang nilainya jauh lebih besar, antara lain pemanfaatan kondisi lingkungan dan tumbuhan serta satwa liar.  
Karakter-karakter diatas menunjukan bahwa hutan mempunyai peran yang sangat vital bagi kelangsungan kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan kelestarian lingkungan hidup. Untuk mewujudkan fungsi hutan yang optimal, maka keberadaan kawasan hutan di Indonesia seluas 136,79 juta Ha dibagi menurut fungsinya;
Ø  Hutan lindung seluas 30,96 juta Ha, ditujukan untuk kepentingan perlindungan tata air, kesuburan tanah dan lain-lain.
Ø  Hutan produksi  yang ditujukan sebagian besar untuk tujuan produksi kayu dan non kayu dengan luas kawasan hutan produksi adalah 59,90 juta Ha
Ø  Hutan konservasi seluas 25,29 juta Ha diperuntukkan bagi kepentingan konservasi sumberdaya hutan dan pemanfaatan jasa serta wisata alam.
Disamping pembagian fungsi tersebut diatas pemerintah telah mengalokasikan sekitar 20,3 juta Ha hutan konversi yang dapat digunakan sektor lain seperti untuk pembangunan pertanian, perkebunan, pemukiman, dan kepentingan umum lainnya. Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDHE) dilakukan melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta eksistemnya dan pemanfataan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
“Perlindungan sistem penyangga kehidupan” dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu menjadi wilayah perlindungan. Sedangkan yang dimaksudkan “pengawetan” adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. Pengawetan di luar kawasan meliputi pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuh-tumbuhan dan satwa, sedangkan pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional.
Pemanfataan secara lestari sumber daya hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: pemanfataan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dan pemanfataan jenis tumbuhan dan satwa liar. Pemanfataan secara terbatas dapat dilakukan baik pada hutan lindung maupun kawasan konservasi terutama pada blok/zona pemanfataan untuk tujuan penunjang budidaya, pendidikan, penelitian dan pariwisata alam.    

Senin, 21 Maret 2011

Korupsi dan KPK

Resume Kuliah Studium Generale
STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA
Dr.  Busyro Muqodas, S.H, M.Hum
 (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK))


Masalah korupsi di Indonesia merupakan isu yang selalu aktual dari waktu ke waktu. Isu ini menjadi topic yang selalu hangay hingga saat ini sejak kejatuhan mantan Presiden Soeharto karena dugaan tindakan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam rezim Orde Baru. Masyarakat sejak saat itu sepertinya menjadi sangat paranoid terhadap tindakan korupsi di kalangan pejabat negara dan institusi pemerintahan. Para calon pemimpin baru pun menggunakan isu ini sebagai alat kampanyenya, menjanjikan adanya pemberantasan dan penindakan kasus korupsi yang tegas.  Namun tidak pernah benar-benar berhasil untuk melaksanakannya sepenuh hati.
Tindakan ini sudah terlalu mengakar dalam perilaku para pejabat pemerintahan karena sudah terlalu lama terjebak dalam sistem yang buruk selama masa pemerintahan Orde Baru. Terbukti banyaknya institusi negara yang memiliki prestasi gemilang dalam pelaksanaan tindakan korupsi dan suap menyuap. Index Suap Publik (TII 2009) memperlihatkan institusi kepolisian menempati peringkat pertama dengan nilai 48% disusul dengan Bea&Cukai 41%, lalu Imigrasi 34%. Pemkot/kab/prov menempati peringkat kelima dengan angka 33%.  
Meskipun upaya penindakan tindak korupsi telah ada dari masa-masa pemerintahan yang lalu, namun dengan tingginya tingkat korupsi pada masa kini dan semakin tingginya ekpektasi masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi, tetap dibutuhkan suatu lembaga yang secara independen dapat menangani kasus ini secara tegas. Maka dibentuklah Komisi Pemberantasan korupsi. Menurut definisinya, Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) secara harfiah berarti  adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
1.      perbuatan melawan hukum;
2.       penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
3.       memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
4.       merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

Terdapat 7 kelompok tindakan yang termasuk dalam kategori tindak pidana korupsi yaitu merugikan keuangan Negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, pengadaan barang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Pemberantasan korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas TPK melalui upaya koordinasi, supervisi, monitor, penyelidikan – penyidikan – penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan dengan peran serta masyarakat. Sedangkan tugas KPK menurut pasal 6 UU 30/2002 adalah penindakan, koordinasi, supervisi, monitoring, dan pencegahan. Untuk dapat melakukan penindakan yang tegas terhadap para pelaku tindak korupsi, maka KPK harus memiliki otoritas yang tinggi, karena itu pasal 12 UU 30/2002 memberikan kewenangan yang besar kepada KPK yaitu:
1.      Menyadap dan merekam pembicaraan
2.      Memerintahkan pelarangan ke luar negeri
3.      Meminta keterangan tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa
4.      Memerintahkan pemblokiran rekening milik tersangka atau terdakwa atau orang lain yang terkait
5.      Memerintahkan pemberhentian sementara tersangka dari jabatannya
6.      Meminta data kekayaan dan perpajakan tersangka
7.      Menghentikan transaksi untuk sementara/mencabut sementara perijinan/lisensi/konsesi
8.      Meminta bantuan pencarian, penyitaan dan pencarian barang bukti di luar negeri
9.      Meminta bantuan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan.