Jumat, 22 Oktober 2010

Pahlawan Nasional

Yeah kayak yang lagi seru dibahas di tv-tv, skarang ni qta sedang milih2 siapakah tokoh nasional yang pantas untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Dari sekitar10 kandidat (yang semuanya sudah meninggal) yang ada akan dipilih orang yang dianggap paling berjasa bagi negara ini, dan hasilnya akan diumumkan pada tanggal 10 November nanti oleh presiden. Beberapa kandidat itu antara lain adalah Ali Sadikin (mantan gubernur DKI Jakarta), KH Abdurrahman Wahid, Pakubuwono X, H.M Soeharto.
Pemberian gelar pahlawan kepada seseorang tentu saja akan menuai pro dan kontra karena pasti ada pihak-pihak yang pernah merasakan kebaikan dan keburukan dari sang kandidat. Namun itu hal yang lumrah karena manusia tidak ada yang sempurna. Tapi jika kita lihat dari beberapa pemberitaan akhir-akhir ini, tokoh yang tampaknya paling kontroversial yang masuk ke dalam daftar ini adalah Pak Harto. Kita semua tahu bahwa tokoh yang satu ini memang eksotis jika melihat apa yang telah beliau lakukan pada negeri ini, baik jasa-jasa nya maupun tindakannya yang dianggap diktator. Beberapa pihak pasti pernah merasakan betul "sentuhan" tangan beliau. Seperti yang saya katakan di atas, pasti ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan dan dirugikan dengan kebijakan beliau. Eksotisme ini juga berkaitan dengan intrik di seputar peristiwa G30 S PKI dan sepak terjangnya di masa orde baru. Selain itu beliau juga dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kebangkrutan negeri ini dan maraknya praktik KKN di lingkungan institusi pemerintahan. Namun demikian beliau bukannya tanpa jasa bagi negeri ini.
Setiap nama yang diajukan telah didukung dengan berbagai argumentasi (yang tentu saja subjektif). Lantas kriteria apa yang dapat digunakan untuk pemilihan Pahlawan Nasional ini? Dari sebutannya kita langsung menyadari bahwa tokoh ini haruslah pahlawan bagi seluruh rakyat Indonesia, dan bukan bagi hanya segelintir orang atau kelompok. Oleh karena itu pemilihan ini haruslah dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia dan tidak hanya melalui pertimbangan Tim Peneliti Pengkajian Gelar Pusat (TP2GP) Kementrian Sosial. Tentu saja, kita tidak akan mendapatkan orang yang sempurna untuk gelar ini, karena itu kita tetap harus memandang mereka sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan, namun memiliki kontribusi yang lebih ber\sar bagi negara dibandingkan warga negara yang lain.
Semoga kebijaksaan dan kerendahan hati mengiringi setiap pertimbangan dalam pemilihan Tokoh Nasional ini. Dan yang paling utama, semoga tokoh yang terpilih adalah orang yang tepat dan dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan sebagian saja.

1 komentar:

  1. hmm.. tp jujur yan, smpe skr org aceh msh menolak Soeharto mnjdi phlwn

    BalasHapus