Resume Kuliah Studium Generale
EKONOMI DAN GEOPOLITIK DALAM PARADIGMA BARU MEMBANGUN EKONOMI INDONESIA
Dr. Hatta Radjasa
(Menteri Koordinator Perekonomian)
PARADIGMA BARU EKONOMI INDONESIA
Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi yang sangat parah ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda dunia pada tahun 1997-1998. Jumlah pengangguran meningkat tajam, kemiskinan semakin parah. Pendapatan per kapita juga merosot menjadi hanya sekitar US$ 400. Banyak yang menyangka bahwa di Indonesia akan terjadi balkanisasi. Indonesia akan terpecah belah seperti yang terjadi pada Uni Soviet, karena para pakar mengatakan bahwa suatu negara hanya dapat survive sebagai negara demokratis jika memiliki pendapatan per kapita sekitar US$ 4000. Setelah terjadi reformasi pendapatan negara 90% nya digunakan membayar hutang luar negeri. Dalam upayanya untuk memulihkan kondisi ekonomi, suatu negara harus melakukan ekspor dan pada tahun 2004 Indonesia berstatus sebagai negara yang menggunakan Factor Driven Economic atau mengandalkan bahan mentah sebagai komoditi utama perdagangan. Kita belum mampu menerapakan Knowledge Based Economic atau Inovation Based Economic.
Demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal, kita harus memaksimalkan potensi 4 mesin pertumbuhan ekonomi yaitu ekspor, investasi, belanja masyarakat, dan APBN. Struktur ekonomi negara maju ditandai dengan dominasi produk sekunder dan tersier. Ini artinya industri dalam negeri harus maju. Kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, dan hal ini tidak akan dapat tercapai dengan metode bisnis yang biasa. Oleh karena itu pemerintah telah merancang paradigma pertumbuhan ekonomi baru Indonesia sampai 2045 yang akan diluncurkan pada bulan April. Visi ini akan menargetkan peningkatan perkapita menjadi sebesar US$ 12.900-16.100. Dengan metode baru ini diperkirakan untuk mencapai suatu kondisi yang serupa dapat 4-6 kali lebih cepat. Untuk mendorong Visi Pembangunan Ekonomi Indonesia 2025, pemerintah telah menetapkan delapan program utama dan 18 aktivitas ekonomi. Kedelapan program utama tersebut adalah: sektor industri, pertambangan, pertanian, kelautan, pariwisata, telekomunikasi, energi, dan pengembangan kawasan.
EKONOMI DAN GEOPOLITIK
Saat ini terjadi pergeseran poros kekuatan ekonomi dunia dari negara-negara barat ke Asia. Negara yang mulai menampakkan kekuatannya adalah India, ASEAN, Cina, dan Jepang. Dengan kata lain Indonesia yang merupakan negara anggota ASEAN termasuk ke dalam pusaran utama kekuatan ekonomi dunia. Hal ini tentu saja akan menjadi penyeimbang perekonomian dunia. Indonesia memiliki satu lagi keuntungan yang tidak dimiliki bangsa lain, yaitu berupa “bonus demografi”. Bonus demografi ini adalah fakta bahwa saat ini dan selama bebrapa puluh tahun ke depan penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk pada produktif sementara negara-negara lain penduduknya mayoritas memasuki usia tua. Meskipun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di antaranya adalah kesenjangan pembangunan antar daerah, infrastruktur, dan dinamika global.
Untuk meningkatkan kualitas pembangunan ekonomi, pemerintah mengembangkan strategi pengembangan 6 koridor ekonomi, memperkuat konektivitas nasional, mempercepat pengembangan IPTEK. Sumber daya alam atau SDA yang terkandung di suatu wilayah harus digunakan secara maksimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah penghasilnya. Sasaran utamanya adalah meningkatnya jam kerja di daerah tersebut oleh karena peningkatan aktifitas ekonomi yang didorong oleh pemanfaatan SDA yang maksimal di daerah itu. Pengembangan wilayah melalui program Koridor Ekonomi Indonesia diharapkan akan melipatgandakan kapasitas perekonomian di Sumatera dan Jawa menjadi empat kali lipat dari kapasitas yang ada saat ini pada tahun 2030. Keberadaan 6 koridor ekonomi dianggap mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7% per tahun.
Keenam koridor ekonomi yang sedang disiapkan pemerintah saat ini adalah pertama, Sumatra sebagai pusat sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, kedua, Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional, dan ketiga, Kalimantan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional. Selanjutnya keempat, Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan nasional, kelima, Bali-Nusa Tenggara sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, serta keenam, Papua-Maluku sebagai pengolahan sumber daya alam yang melimpah dan SDM yang sejahtera.
Dengan adanya koridor ekonomi tersebut, pendapatan regional domestik bruto (PRDB) diperkirakan akan meningkat hingga empat kali lipat yakni dari US$ 555 miliar di 2010 menjadi US$ 1,09 triliun di 2015 dan US$ 2,16 triliun di 2030.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar