Resume Kuliah Studium Generale
Mewujudkan Indonesia Sebagai Bangsa yang Tangguh Menghadapi Bencana
Dr. Syamsul Maarif, M.Si
(Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Akhir-akhir ini Indonesia ditimpa banyak musibah bencana alam yang telah banyak memakan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Banyaknya bencana alam ini terutama terjadi di sepanjang tahun 2010 lalu. Tercatat paling tidak terjadi 3 bencana alam besar yang telah menewaskan ratusan korban jiwa, hilang dan kerugian harta benda. Bencana ini yaitu tanah longsor di Wasior di Papua, gempa bumi yang diikuti dengan tsunami di Mentawai, lalu letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Ketiga bencana tersebut adalah tiga bencana terbesar yang terjadi di sepanjang tahun 2010 dan memakan korban paling banyak.
Beberapa tahun terakhir dunia juga seperti disadarkan oleh gejala alam yang disebut Global Warming. Salah satu akibat dari fenomena ini adalah peningkatan temperatur global rata-rata permukaan bumi yang berakibat pada mencairnya es di kutub sehingga menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim yang berubah dengan cepat dan banyaknya terjadi badai yang sangat merusak di berbagai belahan dunia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Diapit oleh 3 batas lempeng Eurasia, Pasifik, dan Hindia Australia dan sebagai akibatnya menjadi salah satu wilayah di dunia yang dilalui “Ring of Fire”, yaitu serangkaian pegunungan berapi yang melalui Indonesia mulai dari tepi barat Sumatera, pulau Jawa, kemudian berbelok ke arah Sulawesi dan Maluku lalu ke arah Filipina. Jumlah gunung berapi di Indonesia mencapai sekitar 129 dengan beberapa diantaranya merupakan gunung berapi paling aktif di dunia seperti Gunung Merapi yang baru-baru ini meletus. Akibat dari faktor lempeng ini bukan hanya banyaknya gunung berapi yang berkembang, tetapi juga banyaknya titik hiposentrum gempa di sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, hingga ke Sulawesi dan Maluku, yang dapat merupakan potensi kerugian yang cukup besar. Dengan banyaknya potensi bencana ini, sudah seharusnya apabila Indonesia sebagai laboratorium bencana alam menjadi pusat dari kajian bencana alam di dunia. Indonesia ini sering terjadi bencana, sudah semestinya kita menjadi ahli dalam menangani bencana. Perguruan tinggi besar di seluruh Indonesia sangat potensial untuk menjadi pusat kajian kebencana alaman dunia.
Untuk menghadapi situasi seperti ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertugas untuk mengkoordinasikan tindakan-tindakan pertolongan darurat dan bantuan kepada daerah yang mengalami bencana dan penanganan para korban pasca bencana. Tugas BNPB ini merupakan tugas yang hanya dapat diselesaikan hanya jika terdapat bentuk koordinasi yang solid antara pihak-pihak yang terkait dan bertanggung jawab atas daerah terjadi bencana, serta koordinasi yang baik dengan para korban bencana. Namun ternyata koordinasi merupakan hal paling sulit untuk diterapkan. Terutama karena adanya otonomi daerah, para kepala daerah terkadang saling melempar tanggung jawab atau terkadang terlalu arogan untuk menerima intervensi dari pihak di luar system mereka termasuk BNPB. Tidak hanya para stakeholder, warga masyarakat juga terkadang bersikap resisten terhadap upaya-upaya evakuasi. Hal ini tentu saja menyulitkan dan akan menghambat proses pencegahan (mitigasi) dan penyelamatan ketika terjadinya bencana. Dengan demikian BNPB memiliki tugas untuk mensosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan bencana dan mitigasinya ini kepada masyarakat dengan pendekatan yang dapat diterima masyarakat. Hal ini dapat tercapai jika dapat memahami dan menghormati cultural wisdom daerah setempat.
Meskipun demikian, para korban bencana haruslah dapat survive dengan kekuatannya sendiri dan tidak terlalu mengandalkan bantuan. Pada dasarnya bantuan hanya untuk mendukung kekurangan yang tidak tertangani dengan kemampuan para korban sendiri, sehingga para korban diharapkan untuk dapat bertahan semampunya sampai bantuan datang. Secara filosofis hal ini juga agar para korban tidak manja, tangguh dan mandiri dalam menghadapi cobaan dan tidak terlalu mengandalkan orang lain. Jika disikapi dengan bijak bencana juga dapat menjadi jalan bagi pendewasaan manusia agar lebih rendah hati dan bijaksana dan akan menguatkan ikatan antar warga dengan bekerjasama melalui cobaan bersama-sama.
Selain bencana yang secara alamiah memang terjadi karena dinamika alam, terdapat pula bencana yang potensi terjadinya dapat dipicu, dipercepat, dan distimulasi oleh aktivitas manusia. Di antaranya adalah fenomena global warming. Baru-baru ini Al Gore mengungkapkan gagasan “Global Warming Adaptation”. Jika kita perhatikan, hal ini sebenarnya sudah mulai terjadi sejak ditemukannya mesin uap yang berdampak pada terjadinya Revolusi Industri di Inggris. Dengan adanya mesin uap, penebangan hutan semakin gencar, produksi karbon pun semakin pesat. Dengan kata lain, kita sebagai negara berkembang juga diharuskan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh negara-negara maju, dan kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi bumi yang telah mereka rusak. Ini tentu saja tidak adil. Karena itu alih-alih “Global Warming Adaptation” mereka seharusnya mengemukakan gagasan “Global Warming Mitigation”.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar