Belakangan ini saya sedang asyik membaca sebuah buku yang sangat menarik. Judulnya "Untuk Indonesia Yang Kuat" karangan seorang wanita bernama Ligwina Hananto. Beberapa orang mungkin sudah tidak asing dengan nama ini. Ya, dia adalah seorang perencana keuangan independen yang merupakan salah satu orang yang memulai cikal bakal QM Financial. Ligwina Hananto (atau lebih akrab disapa mbak Wina) menerima Bachelor of Commerce, double major Finance dan Marketing dari University of Technology Perth Western Australia. Lalu menerima Master of Business Administration, major Investment Management dari IPMI Business School Jakarta. Profesinya sebagai perencana keuangan independen membuatnya sering diminta menjadi narasumber dalam berbagai diskusi mengenai financial planning dan management baik di televisi maupun di radio.
Baiklah kita mulai saja membahas isi buku ini. Seperti tertera pada judulnya, mbak Wina ingin berkontribusi dalam memajukan dan memperkuat perekonomian Indonesia. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Mbak Wina pertama-tama memperkenalkan kepada kita peranan golongan menengah (middle class) dalam suatu negara dalam menyokong stabilitas perekonomian. Menurutnya, golongan menengah adalah golongan yang berdaya. Mereka punya mata pencaharian dan mampu makan lengkap tiga kali sehari. Punya rumah (mengontrak, rumah orang tua, atau rumah sendiri). Golongan ini tidak selalu punya uang banyak, tapi mereka tidak melarat. Intinya mereka bisa hidup berkecukupan (mampu memenuhi kebutuhan primer dan sekunder), mandiri secara financial tapi tidak mampu hidup super mewah. Tidak ada definisi yang baku untuk golongan menengah ini. Kita bisa saja punya definisi sendiri, namun secara umum seperti yang telah digambarkan oleh mbak Wina di atas.
Golongan menengah inilah yang sebenarnya menjadi motor penggerak perekonomian negara. Golongan menengah ini yang lebih sering melakukan transaksi, pembelian. Golongan ini yang paling banyak bekerja di berbagai sektor. Dan jumlah dari golongan inilah yang paling banyak dan paling potensial untuk memberikan stabilitas ekonomi karen golongan ini seharusnya memiliki kondisi ekonomi yang stabil dan mandiri. Meskipun demikian kita sering mendapati banyaknya orang-orang yang menurut kita seharusnya masuk ke dalam golongan menengah, namun ternyata tidak aman secara finansial. Mereka memiliki gaya hidup yang cukup tinggi tapi ternyata tidak punya aset ataupun tujuan finansial. Mereka cenderung hanya menikmati apa yang mereka miliki saat ini, tapi tidak pernah berpikir bagaimana mempertahankan gaya hidup seperti ini di masa depan. Atau banyak juga yang seringkali sering kehabisan uang sementara gaji bulan depan belum keluar. Semua persoalan ini berasal dari ketidakmampuan mengatur keuangan dan tidak adanya tujuan finansial.
Golongan menengah di Indonesia berjumlah cukup besar. Jumlah ini bahkan hampir sejumlah penduduk negara kecil seperti Singapura atau Malaysia. Bayangkan jika semua orang dari golongan menengah ini mampu berdaya dan mandiri serta mampu menyebarkan kekuatan finansialnya ke sekitar. Betapa besarnya kekuatan yang bisa dibangun dari golongan ini. Oleh karena itu, golongan menengah harus kuat. Harus mandiri. Kalau kita kuat, kita bisa membantu sesama. Salah satu penyebab kemelaratan di negeri ini adalah terjadinya konsentrasi kesejahteraan. Ada golongan orang yang sangat kaya sementara itu ada juga golongan yang sangat miskin. Golongan menengah adalah perantaranya. Sudah seharusnya golongan menengah menjadi jembatan kesenjangan ini. Salah satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah ajakan-ajakan untuk membantu sesama. Ajakan untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan dan bukan hanya berkomentar, mengritik atau menyalahkan pemerintah.
Jadi bagaimana agar golongan menengah ini kuat? Kuncinya adalah Financial Planning. Niat merubah keadaan negeri harus dimulai dari diri sendiri. Pertama-tama kita harus memperkuat stabilitas ekonomi keluarga. Kita harus sadar bahwa kebutuhan kita di masa depan akan sangat besar. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, rumah, dana pensiun dan lain-lain. Kebutuhan-kebutuhan ini merupakan tujuan finansial kita yang harus disusun dengan perencanaan yang matang, kalau tidak kita akan berhadapan dengan resiko anak kita tidak sekolah, tidak punya dana ketika sakit, atau resiko tidak pernah pensiun karena masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Perencanaan keuangan ini harus memperhitungkan inflasi, artinya kita harus memproyeksikan besarnya dana yang dibutuhkan di masa depan dalam bentuk future value (nilai masa depan) dengan memperhitungkan lonjakan nominal karena adanya inflasi. Dana yang dibutuhkan untuk masuk sekolah misalnya, di masa depan akan jauh lebih mahal daripada sekarang.
Namun yang paling membuat saya tercengang ketika membaca buku ini adalah besarnya dana pensiun. Jika kita ingin benar-benar pensiun (tidak bekerja selepas pensiun dan hanya menikmati hasil semasa bekerja), kita tentu harus menyiapkan sejumlah uang untuk itu. Tapi berapa jumlah yang memadai? Kita tentu ingin gaya hidup kita semasa pensiun nanti at least tidak lebih rendah daripada sekarang. Dengan memperhitungkan inflasi dan dengan asumsi bahwa masa pensiun adalah sekitar 55-80 tahun, maka kita akan melihat jumlah yang sangat mencengangkan yaitu mencapai orde milyaran! Dalam buku ini ada sebuah simulasi sederhana yang bisa kita pelajari. Pertanyaannya apakah kita bisa mencapai jumlah itu dengan gaji dari bekerja dan menabung? (Kondisi ini mengasumsikan kita di masa pensiun hidup mandiri tanpa sokongan dari kerabat atau anak-anak.)
Ini adalah satu lagi hal yang membuka mata saya, yaitu kenyataan bahwa menabung saja cukup untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang. Ini semua berkat adanya gangguan dari inflasi. Meskipun kita secara konsisten menabung dengan jumlah tertentu, kita tetap tidak akan mampu mencapai jumlah yang dibutuhkan dengan kondisi inflasi setelah beberapa puluh tahun. Kalaupun kita tetap bersikukuh ingin menabung saja, maka kita harus menabung dengan jumlah yang sangat besar dan konsisten. Karena itulah kita perlu melakukan investasi. Investasi bagi sebagian orang menakutkan karena ada resiko gagal. Resiko memang tidak bisa 100% dihindari, tapi kita bisa mengatur supaya resiko yang kita hadapi menjadi minimum. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan akan produk-produk investasi yang ditawarkan. Saya sendiri kurang memahami seluk beluk dunia investasi di pasar modal ataupun reksadana. Tapi saya ingin belajar untuk paling tidak tahu secara garis besar bagaimana dunia investasi bekerja. Intinya kita harus mengaktivasi uang kita dengan menginvestasikannya.
Saya selama ini memang bisa dibilang bodoh dan buta dalam hal pengetahuan di bidang keuangan. Saya juga tidak tahu faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam membuat perencanaan keuangan. Tapi buku ini benar-benar telah membuka mata saya. Mbak Wina secara tidak langsung telah memperlihatkan kepada saya dimensi-dimensi yang dalam hal Financial Planning yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya pun merekonstruksi pandangan saya tentang istilah "kaya". Karena uang yang banyak tanpa kemampuan pengelolaan yang baik dan akurat tidak akan menghasilkan manfaat bagi kita.
Hal yang saya suka dari buku ini adalah spirit mbak Wina dalam mengajak kita (para calon dan anggota golongan menengah) untuk memperkuat perekonomian keluarga agar dapat membantu sesama. Agar dapat secara konkret terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan, bukan hanya menggerutu dan mengeritik. Jadi di sini terasa bahwa semangat kita untuk memiliki kondisi ekonomi yang baik bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri, tapi juga berkontribusi bagi negara. Dalam bukunya, mbak Wina sering menulis hal-hal seperti ini: "jika dana pendidikan anak kita sudah aman, membantu anak orang lain sekolah tentu akan lebih mudah lagi" atau "Ketika kita kuat, kita bisa memperkuat orang lain untuk waktu yang lebih panjang. Jangan merasa hebat jika anda kuat sendirian." Dan hal-hal lain semacam itu. Jadi secara keseluruhan, buku ini mengandung ajakan yang sangat bagus dan sangat membuka mata bagi kita yang mungkin baru akan memasuki golongan menengah. Membantu kita dalam menentukan orientasi finansial kita sehingga kita tidak hanya tahu cara menggunakan uang, tapi juga mengelolanya dalam skala keluarga. Buku ini juga menyadarkan kita akan pentingnya menentukan tujuan finansial sehingga kita memiliki fokus yang jelas.
Akhirnya saya berharap semoga semangat ini bisa menyebar ke semua orang, terutama dari golongan menengah. Golongan menengah yang kuat, untuk Indonesia yang kuat!