Sabtu, 21 Mei 2011

Pembangunan Berbasis Inovasi Teknologi (An Introduction)

Tulisan ini adalah bagian pendahuluan dari tugas akhir berupa makalah singkat dari mata kuliah Studium Generale.


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang besar. Ini artinya Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar untuk dapat menciptakan kemajuan yang signifikan dan memberikan kontribusi yang konkret terhadap pembangunan bangsa ini. Menurut hasil perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai jumlah 237.641.326 jiwa. Jika kita anggap usia produktif adalah usia 20 tahun sampai 55 tahun, maka penduduk yang termasuk ke dalam kategori usia produktif adalah sejumlah 121.609.485 jiwa. Jumlah ini adalah 51% dari total jumlah penduduk Indonesia. Situasi ini diperkirakan akan bertahan hingga beberapa puluh tahun ke depan. Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi bangsa yang sedang meningkatkan kualitas ekonomi dan berusaha untuk dapat bersaing dalam derasnya dinamika globalisasi multidimensi. Potensi ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa hal sebaliknya justru sedang terjadi di negara-negara maju seperti negara-negara Eropa dan Jepang, dimana pada negara-negara tersebut saat ini dan beberapa puluh tahun ke depan penduduknya didominasi oleh usia tua yaitu di atas 60 tahun. Dengan demikian, sebenarnya kita memiliki kekuatan yang lebih besar untuk dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian dunia dan  menciptakan kemajuan di berbagai bidang jika kita dapat memaksimalkan potensi ini.
Inovasi merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu negara. Selain sebagai alat untuk terus meningkatkan kualitas hidup masyrakatnya, inovasi juga merupakan manifestasi dari suatu masyarakat yang belajar dan berkembang sehingga tingkat inovasi suatu negara dapat menjadi indikator level peradaban suatu bangsa. Di era globalisasi seperti sekarang ini, inovasi menjadi isu yang penting bagi bangsa jika ingin tetap terlibat dalam dinamika pergaulan internasional yang semakin rumit. Pergaulan internasional kini membentuk komunitas regional (Uni Eropa, ASEAN, Uni Emirat Arab), yang berakibat pada dinamika perekonomian regional. Artinya kita tidak lagi berada dalam ruang lingkup dalam negeri saja melainkan secara langsung terlibat dalam dinamika ekonomi regional yang semakin terbuka. 

I.                   POTENSI, KELEMAHAN, TANTANGAN, DAN PELUANG
Pembangunan bangsa yang berbasiskan inovasi teknologi tentu tidak lepas dari peran para intelektual di bidang ini. Mereka adalah para peneliti, dosen, dan mahasiswa yang mempelajari teknologi. Jumlah mahasiswa dan peneliti yang menekuni bidang inipun sebenarnya cukup banyak dan di antara mereka banyak pula yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan prestasi para mahasiswa Indonesia di ajang kompetisi teknologi bergengsi internasional. Berbagai universitas telah berhasil membukukan namanya di ajang kompetisi robotika internasional seperti Unikom, UGM, dan ITB. Dalam bidang otomotif pun ITS telah berhasil mendapatkan gelar internasionalnya. Para peneliti Indonesia pun banyak yang memegang jabatan penting di luar negeri. Hal-hal tersebut dapat membangkitkan optimisme kita untuk dapat lebih meningkatkan upaya pembangunan berbasiskan inovasi teknologi.
Namun saat ini masyarakat Indonesia terlalu disibukkan dengan berbagai pembahasan mengenai dinamika politik yang cenderung kontra-produktif. Dinamika inovasi dan teknologi yang merupakan bagian dari aspek penting dalam perkembangan kemajuan negeri seringkali ter-marginal-kan. Jika hal ini tersisihkan, perhatian masyarakat terhadap inovasi pun akan berkurang sehingga inovasi tidak lagi dianggap penting. Sedangkan inovasi merupakan hal yang berbasiskan permintaan (demand driven). Artinya, inovasi tidak akan berkembang jika tidak ada permintaan dari masyarakat. Hasil survey Biro Riset Ekonomi Bank Indonesia terhadap 29.469 industri besar dan sedang pada Desember 2010 menyebutkan bahwa 78% merupakan industri inovasi rendah, 20% merupakan inovasi sedang, dan hanya 2% yang merupakan industri inovasi tinggi. Inovasi merupakan demand driven sehingga jika permintaan dari masyarakat kurang maka inovasi juga tidak akan berkembang.
Menurut Global Competitiveness Index 2010-2011, Indonesia berada di peringkat 37 dalam business sophistication dan peringkat 36 dalam innovation. Namun berada di peringkat ke 91 dalam hal technological readiness. Ini artinya Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang kuat dalam pengembangan inovasi teknologi, namun memiliki tingkat pemanfaatan yang lemah terhadap teknologi. Indonesia juga memiliki level yang tinggi dalam hal market size. Dengan kondisi yang seperti ini, kita hanya akan menjadi pasar yang baik bagi negara penghasil teknologi inovasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inovasi adalah demand driven. Jumlah industri inovasi tinggi yang hanya sebesar 2% menunjukkan bahwa terdapat demand yang kecil akan teknologi. Demand yang kecil ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kerjasama yang terjalin antara pihak universitas dan dunia usaha. Selama ini hasil penelitian universitas hanya menjadi artifak laboratorium yang dinilai kurang memiliki nilai ekonomi. Namun tentu saja bukan karena mereka memang tidak punya nilai ekonomi, melainkan banyak pihak yang tidak melihat potensi ekonomi dibalik hasil penelitian universitas. Hal ini menjadi penyebab terhambatnya perkembangan inovasi teknologi di negeri ini.
Ini adalah sebuah tantangan bagi semua rakyat Indonesia untuk dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki bangsa ini dan mengkonversinya menjadi suatu gerakan pembangunan yang masiv berbasiskan teknologi agar kita dapat meningkatkan daya saing internasional sehingga kita tidak hanya dapat bertahan dari arus globalisasi, tapi juga dapat berkontribusi dan memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan dunia. Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki kesadaran dan minat yang tinggi akan teknologi. Indonesia juga memiliki banyak universitas yang mampu untuk mengembangkan teknologi lengkap dengan mahasiswa dan peneliti yang bisa diandalkan. Dalam hal ini kita memiliki masyarakat dan pemerintah sebagai demand, dan universitas serta peneliti sebagai supply. Dengan kata lain kita memiliki semua yang diperlukan untuk mengembangkan inovasi sebagai basis pembangunan Indonesia di masa depan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar