Hanya dua bulan sejak kepulangannya ke Indonesia pada 1982, beliau sudah mencatatkan namanya sebagai penulis tunggal dalam sebuah jurnal fisika internasional: Physical Review D26 dengan judul Classical Equation of Motion of a Spinning Nonabelian Test Body in General Relativity. Empat tahun kemudian, beliau kembali merilis hasil karyanya dalam jurnal fisika internasional lain yaitu Modern Physics Letters A dengan judul Dispersive Derivation of the Triangle Anomaly. Hal yang menarik (dalam konteks Indonesia) adalah bahwa Hans berhasil menembus jurnal fisika paling frontier dalam bidang partikel elementer tanpa gelar Ph.D. Dan tidak berhenti sampai di sini saja, pada tahun-tahun berikutnya Hans masih terus menerbitkan hasil peneltiannya dalam berbagai jurnal internasional lainnya.
Perlu diketahui bahwa setiap peneliti diharuskan membayar biaya publikasi sebesar 600 dollar AS untuk setiap publikasi. Hans J. Wospakrik adalah seorang dosen yang hanya hidup dari gaji pegawai negeri seorang dosen ITB, tanpa penghasilan tambahan. Maka dipastikan beliau hanya menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk menabung biaya publikasi tersebut. Seorang koleganya di Departemen Fisika ITB sering mengatakan bahwa Hans secara de facto adalah seorang Ph.D. Dan akhirnya pada 1999, Hans mendapatkan kesempatan untuk memperoleh Ph.D nya setelah mendapat beasiswa di jurusan Matematika di Universitas Durham Inggris. Penelitiannya kali ini mengkaji tentang model alternatif ketiga dari partikel elementer setelah model point particle (model partikel titik/tak berdimensi) dan model string particle (partikel dawai) yaitu model partikel berdimensi 3, yaitu berbentuk bola bernama model Skyrme atau Skyrmion.
Desertasi Hans dalam bidang ini diselesaikannya pada tahun 2002. Selama masa penelitiannya di Durham, beliau juga sempat menerbitkan dua hasil penelitiannya bersama pembimbingnya, Prof. Wojtek J. Zakrzewski di sebuah jurnal yang sangat diimpikannya: Journal of Mathematical Physics pada tahun 2001.
Dari segi kepribadian, Hens J. Wospakrik adalah seorang yang sangat bersahabat dan penolong. Kisah mengenai kepribadiannya yang luar biasa ini terungkap ketika tim editor mewawancarai beberapa mahasiswa yang pernah dibimbing olehnya. Ia bersedia menemani mahasiswanya (baik sarjana maupun pasca sarjana)berdiskusi mengenai tugas akhirnya sampai tengah malam. Hingga beliau harus pulang dengan berjalan kaki dari kampus ITB ke rumahnya yang berjarak sekitar 7 km karena tidak ada lagi angkutan umum. Ya, Hans biasa menggunakan angkutan umum sebagai kendaraan sehari-harinya ke kampus. Taksi bukanlah pilihan untuk gaji seorang pegawai negeri.
Pada masa-masa menjadi mahasiswa sarjana, Hans sangat mengidolakan Albert Einstein. Bahkan tugas akhirnya pun dikerjakan dalam upaya untuk memahami teori relativitas umum: teori yang telah menggelitiknya sejak Hans masih di bangku SMA. Pada tahun 2004 ketika sedang dalam sesi wawancara dengan pihak editor, beliau menunjukkan naskah buku Dari Atomos Hingga Quark. Dia mengatakan bahwa dengan diselesaikannya naskah itu, maka kekagumannya pada semua ilmuwan yang berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan akan merata.
Setahun kemudian datanglah kabar duka. Hans Jacobus Wospakrik meninggal dunia. Beliau meninggal pada usia 53 tahun setelah kurang lebih tiga bulan menderita kanker darah. Penyakit ini menurut istrinya pertama kali diketahui pada bulan September tahun 2004. Pada suatu malam di akhir Desember beliau pulang dari kampus dengan berjalan kaki dan tampak sudah sangat kelelahan. Keesokan harinya beliau dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau meninggal setelah dipindahkan ke RS Dharmais, Jakarta.
Buku “Dari Atomos Hingga Quark” dengan demikian diterbitkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi dan dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan. Khususnya bagi Indonesia, hal ini diharapkan menjadi bukti bahwa negeri ini memiliki seorang ilmuwan cemerlang yang sangat berdedikasi dan berprestasi di dunia internasional namun tidak dikenal bahkan oleh pemerintah RI sekalipun. Nasibnya yang hidup dalam garis kemiskinan membuat siapapun yang mengenalnya pasti menyayangkan hal ini. Akhirnya kita mendapati bahwa kita telah kehilangan seorang besar yang tidak pernah mendapatkan apresiasi yang pantas atas apa yang telah dicapainya bagi negeri ini dari negerinya sendiri.
Semoga sedikit kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita. Semoga terus dilahirkan ilmuwan-ilmuwan Indonesia dengan dedikasi yang besar, dan semoga di masa depan mereka mendapatkan apresiasi yang pantas atas apa yang telah mereka perbuat bagi bangsa ini.
Saya sendiri yakin, ilmu pengetahuan di negeri ini bisa maju. Kita dapat melihat fakta bahwa anak-anak muda kita hampir setiap tahun selalu mendapatkan prestasi bergengsi di level internasional. Artinya bangsa ini memiliki semua yang yang diperlukan untuk bisa maju. Sumber daya manusia yang berkualitas di usia muda adalah bentuk energi kemajuan yang paling generik. Bentuk ini tidak akan dapat berfungsi maksimal jika tidak ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih konkret. Tugas kita bersama-sama untuk dapat mengelola potensi besar bangsa ini agar SDM berkualitas ini bisa mewujudkan potensi maksimumnya untuk kemajuan bangsa.
Kisah selengkapnya mengenai latar belakang, riwayat singkat Hans Jacobus Wospakrik dan berbagai judul karya ilmiah yang diterbitkan di berbagai jurnal internasional dapat dibaca di bagian Pengantar Penerbit dan Pengantar Editor buku “Dari Atomos Hingga Quark”.