Tulisan ini saya buat semata-mata karena kekaguman saya terhadap beliau karena personality, prestasi akademik dan dedikasinya yang luar biasa untuk ilmu pengetahuan.
Meninggalnya beliau pada 11 Januari 2005 merupakan kehilangan yang besar bagi Indonesia.
Beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng melihat koleksi buku di rak buku saya. Menyisir rak buku dari kiri ke kanan, mata saya terhenti pada sebuah buku lama. Buku sains populer yang saya beli (bersama teman saya) di toko buku di sebuah mall di bandung waktu kami masih SMA. Saya pertama kali melihat buku ini di sebuah toko buku di mall di Depok, ketika saya sedang berlibur di tempat seorang kerabat. Sebenarnya saya ingin membelinya saat itu juga, tapi saya sedang tidak punya uang (dulu harganya cukup mahal untuk kantong saya yang masih SMA).
Akhirnya ketika kembali ke Bandung dan uang saya sudah terkumpul, saya dan teman saya yang kebetulan sedang berjalan-jalan di mall mampir ke toko buku dan melihat buku itu lagi! Saya masih ingat sekali betapa kami dengan sangat antusias membeli buku ini. Setelah selesai bayar di kasir, kami pun langsung mencari tempat duduk, membuka segelnya dan langsung membaca dengan cepat bagian-bagian awal buku tersebut. Buku itu berjudul “Dari Atomos Hingga Quark”, karangan Hans Jacobus Wospakrik. Buku setebal 324 halaman ini dibalut cover bernuansa hijau dengan corak berbentuk menyerupai ikatan-ikatan kimia. Selama berhari-hari buku itu menjadi santapan utama saya di waktu senggang.
Buku ini sangat menarik. Menceritakan perjalanan panjang manusia dalam mengungkap hakekat zat, yang diawaki oleh sejumlah filsuf dan ilmuwan berdedikasi dari seluruh dunia sejak zaman sebelum masehi. Saya memang menyukai sains, karena itu saya memiliki beberapa buku sains populer lain di rak buku saya. Semuanya karangan orang asing (terjemahan). Jadi saya berpikir bahwa buku ini juga, seperti buku sains populer saya yang lainnya, adalah terjemahan. Alasan lain saya berpikir demikian adalah bahwa sejauh saya tahu, memang jarang buku sains populer seperti ini ditulis oleh penulis dalam negeri, apalagi tema buku ini memang bukan jenis sains yang umum dikaji di Indonesia (fisika partikel elementer) karena penelitiannya memerlukan peralatan yang luar biasa mahal seperti pemercepat partikel (accelerator particle).
Namun demikian entah mengapa, terbersit keinginan saya untuk membaca bagian Pengantar Penerbit dan Pengantar Editor (mungkin karena begitu tertariknya saya pada buku ini), bagian yang umumnya dilewatkan oleh sebagian besar pembaca buku termasuk saya. Dan ternyata keputusan saya untuk membaca bagian tersebut benar-benar mengubah pandangan saya terhadap buku ini. Buku ini ternyata dibuat oleh seorang Indonesia! Nama Hans J. Wospakrik memang tidak bernuansa Indonesia sehingga saya tidak berpikir sedikitpun bahwa beliau adalah orang Indonesia. Saya benar-benar malu.
Dari kedua bagian awal buku tersebut akhirnya saya mengetahui bahwa Hans J. Wospakrik adalah seorang fisikawan teoritis ITB yang dilahirkan di Serui, Papua pada 10 September 1951, dan beliau memang meneliti tentang fisika partikel. Beliau adalah seorang dosen yang sederhana, yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan akademik dan ilmu pengetahuan. Dengan bimbingan seorang astronom dan ahli matematika dari Departemen Astronomi, Dr. Jorga Ibrahim, beliau berhasil menyelesaikan Tugas Akhirnya tentang teori relativitas umum di sekitar bintang bermuatan listrik. Lulus dari ITB sebagai satu-satunya wisudawan dengan predikat Cum Laude pada tahun 1976 membuatnya langsung diterima sebagai dosen di Departemen Fisika ITB.
Sebagai pengajar, beliau ternyata amat disukai oleh para mahasiswanya dan dikagumi oleh para koleganya sesama dosen. Seorang Hans ternyata memiki bakat mengajar yang luar biasa, menyampaikan materi yang kompleks dengan metode dan tata bahasa yang runtut. Tidak heran jika orang seringkali melihat kelas-kelas yang diisi oleh Hans hampir selalu dipenuhi mahasiswa yang duduk sampai ke lantai. Para kolega sesama dosen dan peneliti pun mengagumi kemampuan mengajarnya ketika menyaksikannya menyampaikan materi dalam berbagai kolokium.
Selain mengajar, beliau juga masi tetap melanjutkan aktivitasnya dalam penelitian. Pada tahun 1980 beliau diajak oleh Prof. Kistemakers, seorang ilmuwan asal Belanda untuk melanjutkan studi di Universitas Utrecht selama 2 tahun setelah melihat kecemerlangannya ketika berkunjung ke Bandung. Hans direkomendasikan untuk melakukan penelitian partikel elementer di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. Martinus J.G. Veltman dan Prof. Dr. Gerardus ‘t Hooft yang kelak pada tahun 1999 keduanya meraih penghargaan Nobel Fisika. Setelah setahun di Belanda, Hans mengikuti Prof . Veltman ke Michigan, Amerika Serikat untuk melanjutkan penelitian di sana. Sayangnya beasiswa studi Hans tidak dapat diperpanjang sehingga beliau kembali ke Indonesia tanpa membawa gelar Ph.D. Namun demikian, pengalaman bekerjasama dengan para ilmuwan berlevel Nobel memberikan Hans banyak pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar